MONOCHROME.
News

Emas Antam Kembali Jebol "Psychological Barrier" Rp 3 Juta: Sinyal Bahaya atau Peluang Emas?

S
Syadzili
February 24, 20263 min read
Harga emas Antam yang melonjak hingga tembus rekor Rp 3 juta per gram
Harga emas Antam melonjak Rp 40.000 ke level Rp 3.068.000 per gram. Simak analisis pakar dan strategi investasi emas di tengah ketidakpastian ekonomi 2026.

Jakarta, Selasa, 24 Februari 2026 – Pasar logam mulia domestik kembali diguncang volatilitas tajam pagi ini. Setelah sempat tertekan di bawah level psikologis, harga emas batangan PT Aneka Tambang Tbk (Antam) hari ini resmi kembali menembus angka keramat Rp 3 juta per gram. Lonjakan agresif ini bukan sekadar fluktuasi harian biasa, melainkan sinyal kuat kembalinya minat investor terhadap aset safe haven di tengah ketidakpastian ekonomi global yang kian memanas menjelang kuartal kedua 2026.

Konteks: Lompatan Rp 40.000 yang Mengubah Peta Pasar

Berdasarkan data perdagangan butik emas Logam Mulia per Selasa, 24 Februari 2026, harga emas Antam ukuran 1 gram melesat naik sebesar Rp 40.000, menempatkan posisi harga jual di level Rp 3.068.000 per gram. Kenaikan ini secara efektif menghapus koreksi yang terjadi pada akhir pekan lalu dan mendekatkan harga emas kembali ke rekor tertinggi sepanjang masa (All Time High) di level Rp 3.168.000 yang sempat tersentuh pada Januari silam.

Tak hanya harga jual, buyback (harga pembelian kembali) juga mencatatkan lonjakan signifikan. Antam menaikkan harga buyback sebesar Rp 41.000 menjadi Rp 2.854.000 per gram. Selisih spread yang lebar ini mengindikasikan tingginya volatilitas namun juga memberikan peluang margin yang lebih besar bagi pemegang aset jangka panjang.

Sentimen utama pendorong kenaikan ini bersifat multidimensi. Di panggung global, kebijakan tarif dagang Amerika Serikat di bawah bayang-bayang mantan Presiden Donald Trump serta ketegangan geopolitik yang belum mereda terus memicu devaluasi mata uang fiat. Di sisi domestik, faktor musiman menjelang bulan Ramadan turut mengerek permintaan fisik emas sebagai instrumen lindung nilai tradisional masyarakat Indonesia.

Suara Pakar: Strategi di Tengah Konsolidasi

Para analis pasar melihat fenomena ini dengan kacamata berhati-hati namun optimis. Kenaikan harga yang tajam seringkali diikuti oleh fase konsolidasi, di mana harga mencari keseimbangan baru sebelum melanjutkan tren penguatan.

Lukman Leong, Chief Analyst Doo Financial Futures, dalam analisisnya yang dipublikasikan awal pekan ini, menyarankan investor untuk tidak terburu-buru melakukan panic buying namun tetap memanfaatkan momentum koreksi.

"Untuk jangka pendek ini, emas diperkirakan masih akan berkonsolidasi, sehingga merupakan peluang bagus untuk investor jangka panjang kembali menambahkan posisi ketika harga terkoreksi. Strategi ideal, mempertahankan sebagian besar 60%–70% dan bisa melakukan swing trading pada sisa 30%–40%." — Lukman Leong, Senin (23/2/2026) via Kontan.co.id.

Sementara itu, proyeksi teknikal yang lebih agresif datang dari pengamat pasar komoditas, Ibrahim Assuaibi. Ia menyoroti potensi pergerakan harga yang bisa menembus resisten baru jika momentum global terus mendukung.

"Kemudian sampai hari Jumat dan Sabtu depan kemungkinan besar resisten kedua harga logam mulia (emas Antam) di Rp 3.150.000 per gram. Seandainya harga logam mulia turun, support pertama di Rp 2.950.000 per gram." — Ibrahim Assuaibi, Senin (23/2/2026) via Investor Daily.

Masa Depan: Menuju Rekor Baru?

Dengan posisi harga yang kini bertengger kokoh di atas Rp 3,06 juta, pasar emas tampaknya sedang membangun landasan untuk menguji kembali level tertinggi historisnya. Jika prediksi Ibrahim terwujud, maka level Rp 3,15 juta bisa tercapai dalam hitungan hari, didorong oleh kombinasi pelemahan rupiah dan naiknya harga emas spot dunia yang kini diperdagangkan di kisaran US$ 5.166 per troy ounce.

Bagi investor ritel, pesan dari dinamika hari ini jelas: era emas di atas Rp 3 juta bukan lagi anomali, melainkan new normal. Volatilitas jangka pendek mungkin akan terjadi, namun tren makroekonomi global terus memberikan angin segar bagi sang logam kuning sebagai benteng terakhir kekayaan aset.

Bagikan: