JAKARTA — Dua tahun telah berlalu sejak Istana Negara dan ruang-ruang rapat Kementerian Keuangan memanas akibat satu program ambisius: Makan Siang Gratis. Hari ini, di tahun 2026, saat kita melihat kembali ke belakang, publik perlu mengingat momen krusial pada akhir Februari 2024. Saat itulah, untuk pertama kalinya, angka-angka "simulasi" dimasukkan ke dalam kerangka ekonomi makro negara, menggeser batas aman disiplin fiskal yang selama ini dijaga ketat.
Berikut adalah rekam jejak investigatif bagaimana postur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025 "dipaksa" melebar demi mengakomodasi janji kampanye tersebut.
Context: Angka di Atas Meja Simulasi
Pada fase transisi pemerintahan awal 2024, sebuah preseden baru tercipta. Jauh sebelum Komisi Pemilihan Umum (KPU) mengumumkan pemenang resmi Pilpres, kabinet petahana telah menggelar karpet merah fiskal untuk program unggulan Prabowo-Gibran.
Data yang kami himpun dari dokumen rapat kabinet Februari 2024 menunjukkan pergeseran signifikan dalam desain fiskal. Defisit APBN 2025 yang semula diproyeksikan konservatif, tiba-tiba dikerek naik ke kisaran 2,45% hingga 2,80% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Kenaikan ini bukan tanpa sebab; ada kebutuhan ruang fiskal jumbo—yang kala itu diestimasi mencapai Rp 71 triliun untuk tahap awal—demi mendanai makan siang bagi jutaan anak sekolah.
Simulasi fisik pun digelar terburu-buru di Tangerang, Banten, hanya tiga hari setelah rapat kabinet, mematok standar biaya Rp 15.000 per anak (di luar susu). Angka ini menjadi titik perdebatan panas antara kecukupan gizi dan ketahanan kantong negara.
Voice: Suara dari Februari 2024
Rekaman pernyataan para pejabat kunci pada masa itu menjadi bukti otentik bagaimana narasi ini dibangun. Berikut adalah kutipan verbatim dari para arsitek ekonomi saat itu, yang kami verifikasi dengan timestamp akurat:
1. Sinyal Awal Pelebaran Defisit Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, usai Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, memberikan konfirmasi pertama bahwa anggaran makan siang gratis telah masuk dalam perhitungan defisit, meski hasil Pilpres belum final.
"Untuk postur awal ini tadi telah disampaikan dari sisi penerimaan negara maupun belanja negara dijaga, sehingga defisitnya untuk tadi adalah antara 2,45 hingga 2,8 persen dari GDP (Gross Domestic Product)."
— Sri Mulyani Indrawati, Senin, 26 Februari 2024 (Sumber: Konferensi Pers Istana Negara via Kumparan).
2. Patokan Harga Rp 15.000 Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, yang saat itu gencar mengawal program ini, menegaskan besaran angka per porsi yang menjadi basis hitungan simulasi anggaran.
"Per anak kira-kira Rp 15.000. Ya itu kan bisa dibuat macam-macam... Itu di luar susu."
— Airlangga Hartarto, Senin, 26 Februari 2024 (Sumber: Doorstop Kantor Kemenko Perekonomian via CNBC Indonesia).
3. Klaim 'Sudah Masuk' Anggaran Dalam kesempatan yang sama, Airlangga juga memastikan bahwa program ini bukan lagi sekadar wacana kampanye, melainkan sudah dikunci dalam pos anggaran transisi.
"Terkait dengan program (makan siang gratis), kita lihat terkait defisit anggaran yang sekitar 2,4 (persen) sampai 2,8 (persen), itu untuk program yang menjadi quick win daripada presiden terpilih nanti atau pemerintahan mendatang, itu pos-posnya sudah bisa masuk."
— Airlangga Hartarto, Senin, 26 Februari 2024 (Sumber: Wawancara Istana Kepresidenan via CNN Indonesia).
4. Realitas Lapangan dalam Simulasi Saat meninjau langsung simulasi makan siang gratis di SMP Negeri 2 Curug, Tangerang, Airlangga mencoba meyakinkan publik bahwa menu seharga Rp 15.000 sudah layak, sebuah klaim yang saat itu menuai skeptisisme ahli gizi.
"Karena nantinya ini direplikasi di berbagai daerah dan kami ingin meng-encourage daerah-daerah lain yang bersedia menjadi percontohan atau simulasi seperti yang dilakukan di Tangerang."
— Airlangga Hartarto, Kamis, 29 Februari 2024 (Sumber: Peninjauan Simulasi SMPN 2 Curug via Antara).
Future: Warisan Simulasi 2025
Apa yang diputuskan di meja rapat Februari 2024 tersebut telah menjadi fondasi bagi realitas ekonomi yang kita hadapi hari ini di tahun 2026. Keputusan untuk melebarkan defisit APBN 2025 demi program populis terbukti menjadi pertaruhan besar.
Simulasi anggaran yang kala itu tampak sebagai angka-angka statistik di atas kertas, kini telah bertransformasi menjadi beban riil pada neraca negara. Pertanyaannya bagi kita sekarang: apakah 'investasi' nutrisi yang dimulai dengan simulasi Rp 15.000 dua tahun lalu ini sudah setimpal dengan ruang fiskal yang dikorbankan? Sejarah mencatat, Februari 2024 adalah titik nol di mana disiplin anggaran mulai melunak demi mengakomodasi janji politik.



