MONOCHROME.
News

"Roh Juanito" dan Gol Menit 95: Real Madrid Tolak Menyerah di Balaídos

S
Syadzili
March 7, 20263 min read
"Roh Juanito" dan Gol Menit 95: Real Madrid Tolak Menyerah di Balaídos
Real Madrid raih kemenangan dramatis 2-1 atas Celta Vigo di La Liga berkat gol telat Valverde. Arbeloa puji mentalitas 'Roh Juanito' skuad Los Blancos.

VIGO – Di tengah badai cedera yang melumpuhkan hampir separuh skuad utama dan bayang-bayang Manchester City yang menanti di Liga Champions, Real Madrid kembali membuktikan mengapa mereka adalah anomali dalam sepak bola modern. Bukan taktik rumit atau dominasi statistik yang menyelamatkan Los Blancos tadi malam, melainkan sebuah defleksi liar di menit ke-95 yang mengubah potensi krisis menjadi euforia.

Kemenangan dramatis 2-1 atas Celta Vigo di Estadio Balaídos bukan sekadar tambahan tiga poin; ini adalah pernyataan perang. Dengan Barcelona yang hanya terpaut satu poin di puncak klasemen La Liga, pasukan Alvaro Arbeloa menolak untuk mengibarkan bendera putih meski tanpa kehadiran Kylian Mbappé dan Jude Bellingham.

Konteks: Kemenangan di Tengah Krisis

Real Madrid datang ke Galicia dengan kondisi pincang. Absennya Mbappé (lutut) dan Bellingham (hamstring) memaksa Arbeloa memutar otak, menurunkan formasi darurat dengan pemain muda dari La Fábrica mengisi kekosongan. Sempat unggul lewat tembakan Aurélien Tchouaméni di menit ke-11, Madrid kehilangan kendali ketika Borja Iglesias menyamakan kedudukan untuk tuan rumah.

Laga tampak akan berakhir imbang—hasil yang akan menjadi bencana bagi aspirasi gelar liga—hingga Federico Valverde melepaskan tembakan spekulatif dari luar kotak penalti di masa injury time. Bola membentur pemain bertahan lawan, mengecoh kiper Ionut Radu, dan bersarang di gawang. Skor 2-1.

Kemenangan ini memangkas jarak dengan Barcelona menjadi 63 poin berbanding 64 poin, memberikan tekanan psikologis masif kepada rival abadi mereka yang baru akan bertanding melawan Athletic Bilbao sore ini.

Suara dari Lapangan: "Ini Titik Balik"

Di ruang pers pasca-laga Jumat malam (6/3/2026), manajer Alvaro Arbeloa tidak bisa menyembunyikan kelegaannya. Ia mengakui timnya jauh dari sempurna, namun menyoroti karakter mental yang menjadi DNA klub.

"Saya tahu kami bisa melakukan banyak hal dengan lebih baik, tetapi dengan kepribadian dan karakter yang kami tunjukkan hari ini, saya berharap ini adalah titik balik dan dari sini segalanya berjalan jauh lebih baik," ujar Arbeloa kepada awak media. "Kami datang ke sini dengan 10 pemain absen, jadi saya pikir kemenangan kami pantas mendapatkan banyak kredit."

Arbeloa juga memberikan pujian khusus kepada Valverde, sang pahlawan malam itu, dengan menyamakannya dengan legenda klub yang terkenal dengan semangat pantang menyerahnya.

"Dia adalah... dia adalah segala sesuatu yang seharusnya dimiliki seorang pemain Real Madrid. Dia adalah Federico Valverde. Dia memiliki 'roh Juanito' itu," tambah Arbeloa.

Sementara itu, kiper Thibaut Courtois, yang melakukan penyelamatan krusial di awal laga, menjelaskan emosi meledak-ledak yang ia tunjukkan saat gol kemenangan tercipta.

"Saya tidak gila, saya berlari merayakan seperti itu karena, yah, pada akhirnya, ini bukan minggu yang mudah," ungkap Courtois dalam wawancara di mixed zone. "Kami tahu kami harus bereaksi hari ini... dan ini adalah kemenangan yang bagus untuk tetap berada dalam pertarungan."

Di kubu lawan, rasa frustrasi sangat terasa. Striker Celta Vigo, Borja Iglesias, meratapi nasib timnya yang kehilangan poin di detik-detik terakhir.

"Ini menyakitkan karena itu terjadi tepat di saat kematian [pertandingan]. Ini sedikit membuat frustrasi," kata Iglesias. "Kami hampir tidak memberikan peluang, dan tembakan di akhir itu dipertahankan dengan baik, jadi kami sedikit kesal."

Masa Depan: Menatap Manchester City

Euforia di Vigo harus segera diredam. Fokus Arbeloa kini beralih sepenuhnya ke Rabu depan, 11 Maret 2026, saat Los Blancos menjamu Manchester City di leg pertama babak 16 besar Liga Champions.

Situasi medis menjadi perhatian utama. Laporan dari Valdebebas pagi ini mengindikasikan bahwa partisipasi Mbappé dan Bellingham masih sangat diragukan. Tanpa dua pilar utamanya, Arbeloa sekali lagi harus mengandalkan kolektivitas dan "roh Juanito" yang digaungkannya—sebuah variabel non-teknis yang, seperti terbukti di Balaídos, sering kali menjadi pembeda antara kegagalan dan kejayaan bagi Real Madrid.

Bagikan: