MADRID, Rabu 18 Februari 2026 – Kemenangan vital Real Madrid 1-0 atas Benfica di leg pertama babak playoff Liga Champions tadi malam (17/2) seharusnya menjadi perayaan taktis bagi manajer anyar Alvaro Arbeloa. Namun, laga di Estádio da Luz tersebut justru berakhir dengan awan kelabu setelah insiden rasisme yang memaksa pertandingan terhenti selama 11 menit, memicu kecaman global dan pengaktifan protokol anti-diskriminasi UEFA.
Malam Kelam di Lisbon
Pertandingan berlangsung panas sejak menit awal, namun eskalasi memuncak di awal babak kedua. Lima menit pasca turun minum, Vinicius Junior memecah kebuntuan lewat penyelesaian lengkung indah ke sudut jauh, memanfaatkan serangan balik kilat yang diarsiteki Kylian Mbappé.
Momen selebrasi berubah menjadi kekacauan ketika Vinicius terlibat konfrontasi panas dengan penyerang Benfica, Gianluca Prestianni, yang diduga melontarkan hinaan rasial. Wasit Francois Letexier segera menghentikan laga dan mengaktifkan protokol anti-rasisme FIFA, sementara para pemain Real Madrid sempat mengancam akan meninggalkan lapangan (walk-out).
Kylian Mbappé, yang memberikan assist untuk gol tunggal tersebut, memberikan kesaksian mengerikan pasca-laga mengenai apa yang terjadi di lapangan.
"He lifted his shirt to say that Vini is a monkey five times," ujar Mbappé dengan nada geram di area mixed zone, merujuk pada gestur provokatif lawan (Sumber: RealMadrid.com, 17 Feb 2026).
Gelandang Federico Valverde turut mengonfirmasi beratnya situasi di ruang ganti.
"What happened is lamentable, and we are going to help and support Vini Jr," tegas Valverde (Sumber: RealMadrid.com, 17 Feb 2026).
Era Baru di Bawah Arbeloa
Di luar kontroversi, laga ini menandai ujian Eropa pertama bagi Alvaro Arbeloa, yang baru bulan lalu mengambil alih kursi kepelatihan dari Xabi Alonso. Keputusan Arbeloa untuk memasang Trent Alexander-Arnold—yang baru pulih dari cedera sejak Desember 2025—terbukti krusial. Bek Inggris yang didatangkan dari Liverpool pada musim panas 2025 itu tampil dominan, menepis keraguan soal masa depannya di Bernabéu.
Arbeloa, yang dikenal protektif terhadap pemainnya, tidak menahan diri saat membela Vinicius sekaligus memuji ketenangan timnya dalam situasi krisis.
"We cannot allow such things to happen on a football pitch," kecam Arbeloa terkait insiden rasisme tersebut (Sumber: RealMadrid.com, 17 Feb 2026).
Mengomentari performa Alexander-Arnold yang menjadi motor serangan dari sisi kanan, Arbeloa menambahkan:
"He seems very, very intelligent to me; he understands the game quite well and quite quickly. He's not the typical full-back who's always out wide; he'll also be playing a lot further inside. In our system, we want players like that," (Sumber: Liverpool Echo, 18 Feb 2026).
Implikasi Format Baru UCL
Kemenangan tipis ini menjadi modal berharga bagi Los Blancos yang harus menempuh jalur playoff setelah hanya finis di peringkat ke-9 pada fase liga format baru UEFA. Jose Mourinho, manajer Benfica, harus menyaksikan timnya takluk dan dirinya sendiri diusir wasit di menit ke-85 akibat protes berlebihan.
Real Madrid kini menatap leg kedua yang akan digelar Rabu depan di Santiago Bernabéu. Dengan agregat 1-0, tiket menuju babak 16 besar sudah di depan mata, namun sorotan dunia dipastikan akan tertuju pada bagaimana UEFA menangani insiden memalukan di Lisbon ini.

