MONOCHROME.
Sport

Barcelona Tuntut Reformasi Total Wasit Spanyol Usai Skandal Copa del Rey

S
Syadzili
February 15, 20263 min read
Barcelona menyerukan reformasi wasit sepak bola Spanyol setelah kontroversi Copa del Rey
Kontroversi besar di Copa del Rey mendorong Barcelona menuntut perubahan menyeluruh terhadap sistem perwasitan Spanyol demi menjaga integritas kompetisi.

BARCELONA – Ketegangan antara FC Barcelona dan Federasi Sepak Bola Kerajaan Spanyol (RFEF) mencapai titik didih baru. Menyusul kekalahan telak 0-4 dari Atletico Madrid di leg pertama semifinal Copa del Rey, manajemen Blaugrana tidak tinggal diam. Bukan sekadar meratapi skor, klub raksasa Catalan itu resmi melayangkan surat pengaduan formil yang memuat tuntutan reformasi sistemik terhadap kualitas perwasitan di Spanyol.

Langkah drastis ini diambil pada Sabtu, 14 Februari 2026, hanya 48 jam setelah insiden di Stadion Metropolitano yang dinilai mencoreng integritas kompetisi. Surat tersebut bukan sekadar keluhan pasca-laga, melainkan sebuah manifesto ketidakpercayaan terhadap standar ganda yang dinilai terus berulang musim ini.

Konteks: Lima Poin Gugatan dan Kegagalan Teknologi

Inti dari kemarahan Barcelona dipicu oleh dianulirnya gol bek muda Pau Cubarsí di menit ke-52 saat skor masih bisa dikejar. Insiden tersebut melibatkan pemeriksaan VAR selama delapan menit yang berakhir kontroversial akibat kegagalan teknologi semi-automated offside. Wasit akhirnya menarik garis manual yang dianggap subjektif oleh kubu tamu.

Dalam surat setebal empat halaman yang ditujukan kepada Presiden RFEF, Presiden Komite Teknis Wasit (CTA) Luis Medina Cantalejo, serta Direktur Hukum RFEF, Barcelona merinci lima "dosa besar" perwasitan musim ini:

  1. Inkonsistensi Disiplin: Hukuman yang berbeda untuk pelanggaran identik.

  2. Standar Ganda Handball: Kriteria yang bertentangan di area penalti.

  3. Akumulasi Eror Signifikan: Pola kesalahan berulang yang merugikan poin krusial.

  4. Transparansi VAR: Tuntutan akses penuh terhadap audio ruang VAR.

  5. Protokol Monitor: Ketidakjelasan kapan wasit harus meninjau layar di pinggir lapangan.

Kekalahan di Madrid bukan satu-satunya pemicu, namun menjadi puncak gunung es dari apa yang disebut klub sebagai "kerusakan sistemik".

Suara Resmi: "Kriteria yang Merusak Pertandingan"

Dalam pernyataan resmi yang dirilis klub pada Sabtu siang waktu setempat, Barcelona menggunakan bahasa yang sangat tegas dan tidak diplomatis. Berikut adalah kutipan verbatim dari dokumen yang dikirimkan ke markas RFEF di Las Rozas:

"Klub menyatakan keprihatinan mendalam atas keputusan wasit yang berulang kali dianggap merugikan permainan dan kurang memiliki kriteria yang konsisten."
— Pernyataan Resmi FC Barcelona, Sabtu 14 Februari 2026, 11:00 CET.

Lebih lanjut, surat tersebut menyoroti dampak psikologis dan kompetitif dari keputusan yang dianggap tidak adil tersebut:

"Adanya keputusan berbeda terhadap tindakan yang bersifat identik menciptakan persepsi standar ganda yang tidak sesuai dengan prinsip keadilan, kesetaraan, dan kepastian hukum yang seharusnya mengatur kompetisi."
— Surat Resmi FC Barcelona kepada RFEF, Sabtu 14 Februari 2026.

Mantan Presiden Joan Laporta, yang baru saja mundur awal pekan ini untuk mencalonkan diri kembali dalam pemilihan presiden klub, turut menyuarakan dukungannya melalui media sosial, menegaskan bahwa langkah ini adalah perlawanan terhadap ketidakadilan.

Masa Depan: Tuntutan Transparansi Total

Langkah Barcelona ini berpotensi memicu efek domino di La Liga. Klub tidak hanya meminta penjelasan atas insiden Cubarsí, tetapi menuntut perubahan regulasi. Barcelona mendesak agar RFEF mempublikasikan seluruh rekaman audio VAR dalam setiap insiden kontroversial, bukan hanya yang ditinjau di monitor, demi tujuan edukasi dan transparansi.

Jika RFEF dan CTA tidak merespons dengan langkah konkret, hubungan antara otoritas liga dan salah satu aset terbesarnya ini terancam retak permanen. Bagi skuad asuhan Hansi Flick, fokus kini terbagi dua: mengejar ketertinggalan mustahil di leg kedua Copa del Rey, dan melawan apa yang mereka yakini sebagai ketidakadilan struktural di luar lapangan.


Sport#Real Madrid#UEFA#Barcelona#Spotify#Camp Nou#Hansi Flick#La Liga#Liga Champions
Bagikan: