WOLVERHAMPTON, Cole Palmer tidak hanya sekadar mencetak gol di Molineux kemarin; ia menulis ulang sejarah modern Chelsea. Dalam waktu kurang dari 40 menit babak pertama, gelandang serang berusia 23 tahun itu membungkam segala keraguan terkait kebugarannya dengan trigol mematikan saat Chelsea melumat Wolverhampton Wanderers 3-1, Sabtu (7/2/2026).
Hattrick ini menjadi yang keempat bagi Palmer di Premier League sejak berseragam The Blues, sebuah pencapaian monumental yang menempatkannya di puncak daftar pencetak hattrick terbanyak klub di kompetisi ini. Dengan torehan tersebut, ia resmi melampaui catatan para legenda Stamford Bridge: Didier Drogba, Frank Lampard, dan Jimmy Floyd Hasselbaink, yang masing-masing mengoleksi tiga hattrick.
Dampak: Dominasi Babak Pertama yang Bersejarah
Penampilan Palmer di Molineux bukan sekadar statistik, melainkan sebuah pernyataan tegas. Setelah musim yang diganggu cedera dan spekulasi media, sang pemain menjawab dengan efisiensi brutal.
Gol pembuka lahir di menit ke-12 melalui titik putih setelah Joao Pedro dijatuhkan. Dua puluh tiga menit kemudian, skenario serupa terulang; pelanggaran terhadap Pedro kembali dikonversi Palmer dengan ketenangan khasnya. Namun, momen puncaknya terjadi di menit ke-38. Memanfaatkan umpan tarik matang dari Marc Cucurella, Palmer melepaskan tembakan keras ke atap gawang Jose Sa, melengkapi hattrick-nya sekaligus memastikan kemenangan Chelsea bahkan sebelum peluit babak pertama berbunyi.
Statistik mencatat rekor lain yang tak kalah mentereng: Palmer kini menjadi pemain pertama dalam sejarah Premier League yang mencetak tiga "hattrick babak pertama" (tiga gol yang seluruhnya tercipta di 45 menit awal) dalam kariernya.
Suara: "Doubt Us Now"
Di lorong Molineux pasca-laga, Palmer tampak santai namun tajam dalam merespons narasi miring yang sempat mengiringi musimnya. Ia tidak menutupi rasa frustrasinya terhadap cedera, namun menegaskan mentalitasnya yang tak tergoyahkan.
"Everyone loves to chat rubbish, don't they? I don't pay too much attention to it. You see things. But I feel like I've come from a strong place anyway, so I don't pay attention to it," ujar Palmer kepada awak media, menanggapi kritik yang sempat dialamatkan padanya.
Mengenai kondisi fisiknya yang belum 100% pulih, Palmer memberikan pandangan jujur:
"It felt good to score some goals and get three points. I don't think [I'm 100% fit] just yet. Obviously, people don't know what goes on behind the scenes, but being injured the whole season is not ideal... I know what level I can provide when I feel 100% fit."
Manajer Chelsea, Liam Rosenior, yang kini mencatatkan empat kemenangan beruntun di liga, tak bisa menyembunyikan kekagumannya. Bagi Rosenior, gol ketiga Palmer adalah representasi sempurna dari filosofi yang ingin ia tanamkan.
Masa Depan: Ujian Konsistensi Menanti
Kemenangan ini menjaga momentum krusial bagi Chelsea dalam perburuan posisi empat besar. Namun, jadwal padat sudah menanti. The Blues tidak punya banyak waktu untuk merayakan rekor ini karena mereka harus segera bersiap menjamu Leeds United di Stamford Bridge pada Selasa (10/2/2026).
Pertanyaan besarnya kini bukan lagi tentang kualitas Palmer, melainkan daya tahan tubuhnya. Jika Rosenior mampu mengelola menit bermain sang bintang dengan bijak seperti yang dilakukannya kemarin, yakni menarik keluar Palmer di menit ke-60, bukan mustahil rekor-rekor lain akan kembali pecah di sisa musim ini.
Untuk saat ini, Molineux telah menjadi saksi bisu: Cole Palmer bukan lagi sekadar talenta muda berbakat, ia adalah standar emas baru bagi lini serang Chelsea.
