MANCHESTER, Sabtu 7 Februari 2026 – Ketegangan diplomatik di luar lapangan memanas di Etihad Stadium pagi ini setelah Pep Guardiola, manajer Manchester City, mengeluarkan respon keras terhadap kritik terbuka dari Dewan Perwakilan Yahudi (JRC) Greater Manchester & Region. Dalam konferensi pers pra-pertandingan yang digelar kemarin, Jumat (6/2/2026), Guardiola menegaskan penolakannya untuk "hanya fokus pada sepak bola," sebuah kalimat yang menjadi inti teguran resmi JRC menyusul komentar sang pelatih tentang konflik di Gaza dan istilah "genosida" yang digunakannya awal pekan ini.
Insiden ini menandai salah satu benturan paling tajam antara figur olahraga elit Inggris dan organisasi komunitas lokal terkait eskalasi konflik Timur Tengah yang terus berlanjut.
Respon Tanpa Penyesalan: "Saya Tidak Mengatakan Sesuatu yang Spesial"
Guardiola, yang tampak tenang namun tegas, menggunakan forum media kemarin untuk menjawab surat terbuka JRC yang dipublikasikan pada Rabu (4/2/2026). Alih-alih menarik ucapannya, pelatih asal Catalan itu justru mempertanyakan batasan yang coba diterapkan pada kebebasan berbicaranya sebagai warga sipil.
"Why should I not express what I feel? Just because I'm a manager?" (Kenapa saya tidak boleh mengungkapkan apa yang saya rasakan? Hanya karena saya seorang manajer?) tegas Guardiola di hadapan para jurnalis, Jumat (6/2/2026).
"I don't agree but I respect absolutely all opinions. What I said basically is how many conflicts are there right now all around the world? How many? A lot – I condemn all of them." (Saya tidak setuju [dengan kritik tersebut], tapi saya sangat menghormati semua pendapat. Apa yang saya katakan pada dasarnya adalah ada berapa banyak konflik di dunia saat ini? Banyak – dan saya mengutuk semuanya.)
Pernyataan ini muncul setelah JRC menuduh Guardiola "mengecewakan" klub dan komunitas Yahudi dengan komentar-komentarnya. Namun, Guardiola bersikeras bahwa empatinya bersifat universal, bukan selektif.
"If innocent people are killed, I condemn them all – not this country being more than the other one," (Jika orang-orang tak berdosa terbunuh, saya mengutuk semuanya – tidak ada satu negara yang lebih penting dari yang lain,) tambahnya.
Dalam momen yang lebih tajam, Guardiola bahkan menyindir seorang reporter yang mencoba mendesaknya kembali ke topik taktis, dengan mengatakan: "OK, you focus on being a journalist and you cannot talk about the economy, because you are not an economic journalist" (Oke, Anda fokus saja jadi jurnalis dan Anda tidak boleh bicara soal ekonomi, karena Anda bukan jurnalis ekonomi).
Akar Konflik: "Genosida" dan Seruan "Fokus pada Sepak Bola"
Pemicu utama polemik ini adalah pernyataan Guardiola pada konferensi pers Selasa lalu (3/2/2026) serta pidatonya dalam acara amal untuk anak-anak Palestina di Barcelona pekan sebelumnya. Dalam kesempatan itu, Guardiola secara eksplisit menyejajarkan situasi di Gaza dengan invasi Rusia ke Ukraina dan konflik di Sudan, serta menggunakan terminologi yang sangat sensitif bagi komunitas Yahudi.
"Never, ever in the history of humanity have we had the info in front of our eyes, watching more clearly than now – genocide in Palestine... It hurts me," (Belum pernah dalam sejarah kemanusiaan kita memiliki informasi sejelas sekarang di depan mata kita – genosida di Palestina... Itu menyakitkan saya,) ujar Guardiola saat itu.
Reaksi dari JRC Greater Manchester datang dengan cepat dan keras. Melalui pernyataan resmi di platform X (sebelumnya Twitter), organisasi tersebut mengecam penggunaan kata "genosida" dan menuduh Guardiola gagal menunjukkan solidaritas terhadap komunitas Yahudi lokal, terutama pasca serangan teror di Sinagoga Heaton Park pada Oktober 2025 yang menewaskan dua orang.
Kutipan asli dari pernyataan JRC berbunyi:
"Pep Guardiola is a football manager. Whilst his humanitarian reflections may be well-intentioned, he should focus on football. Manchester City is being let down by him repeatedly straying into commentary on international affairs." (Pep Guardiola adalah manajer sepak bola. Meskipun refleksi kemanusiaannya mungkin bermaksud baik, dia harus fokus pada sepak bola. Manchester City dikecewakan olehnya yang berulang kali menyimpang ke dalam komentar urusan internasional.)
JRC juga menyebut pandangan Guardiola sebagai "pandangan kontroversial mengenai konflik Timur Tengah" yang berpotensi memicu tindakan antisemitisme lebih lanjut di Inggris.
Konteks Masa Depan
Hingga berita ini diturunkan pada Sabtu pagi, manajemen Manchester City belum mengeluarkan pernyataan resmi untuk menengahi konflik antara manajer bintang mereka dan perwakilan komunitas lokal. Sikap diam klub kontras dengan vokalitas Guardiola, yang tampaknya siap menghadapi konsekuensi reputasi demi mempertahankan hak suaranya.
Bagi Guardiola, isu ini melampaui taktik lapangan hijau. Seperti yang ia tutup dalam pernyataannya kemarin:
"If you don't understand my message it's fine. I cannot say otherwise." (Jika Anda tidak memahami pesan saya, tidak apa-apa. Saya tidak bisa berkata lain.)
Pertandingan City akhir pekan ini kini tidak hanya akan disorot dari sisi skor, tetapi juga bagaimana tribun penonton dan komunitas Manchester merespon sikap tanpa kompromi sang manajer.

