MONOCHROME.
Sport

Marseille Terpuruk: Boikot Suporter dan Insiden Menit 97 Guncang Klub

S
Syadzili
February 15, 20263 min read
Suporter Olympique de Marseille memboikot laga saat klub dilanda krisis dan insiden dramatis menit akhir
Kekacauan di dalam dan luar lapangan membuat Olympique de Marseille terpuruk, dengan boikot suporter dan insiden menit 97 menjadi simbol krisis yang kini membayangi klub.

MARSEILLE, Minggu 15 Februari 2026 : Stade Vélodrome, yang biasanya menjadi kawah berapi sepak bola Prancis, berubah menjadi monumen kesunyian yang mencekam kemarin sore. Dalam lanjutan Ligue 1 yang berakhir ricuh, aksi boikot suporter Olympique de Marseille (OM) menjadi latar belakang tragis bagi hasil imbang 2-2 melawan Strasbourg, sebuah laga yang mencerminkan kekacauan institusional klub pasca kepergian Roberto De Zerbi.

Keheningan di "Kapal Hantu"

Sesuai ancaman yang beredar sepanjang pekan, kelompok ultras dari Virage Sud dan Virage Nord merealisasikan protes mereka tepat saat kick-off Sabtu (14/2/2026). Selama 15 menit pertama, ribuan kursi di tribun belakang gawang dibiarkan kosong melompong. Tidak ada nyanyian, tidak ada kibaran bendera; hanya spanduk-spanduk raksasa yang menyuarakan kemarahan terhadap pemilik Frank McCourt dan Presiden Pablo Longoria.

Aksi ini dipicu oleh "minggu neraka" bagi Les Phocéens: kekalahan memalukan 0-5 dari Paris Saint-Germain (PSG) di Le Classique pekan lalu, yang disusul oleh pemecatan mendadak pelatih Roberto De Zerbi pada pertengahan minggu.

Ketika para suporter akhirnya memasuki tribun pada menit ke-15, bertepatan dengan gol pembuka Mason Greenwood, mereka tidak datang untuk merayakan, melainkan untuk menghakimi. Spanduk di Virage Nord membentangkan pesan menohok yang dikutip oleh L'Équipe:

"Tribun kosong sebagai protes untuk klub yang sedang menghancurkan diri sendiri. Semua proyek Anda telah menjadi asap setelah tahun-tahun yang sia-sia ini."

Runtuh di Detik Terakhir

Di lapangan, pelatih interim Jacques "Pancho" Abardonado tampak berhasil meredam krisis sejenak. Setelah gol Greenwood, Amine Gouiri menggandakan keunggulan menjadi 2-0 di awal babak kedua. Namun, kerapuhan mental skuad OM kembali terekspos.

Strasbourg, yang tampil menekan di bawah asuhan Gary O'Neil, memperkecil ketertinggalan di menit ke-73. Bencana sesungguhnya terjadi di masa injury time. Pada menit ke-97, wasit menunjuk titik putih, dan Joaquin Panichelli dengan dingin mengeksekusi penalti yang membungkam Vélodrome, memaksakan hasil imbang 2-2.

Ini adalah ketujuh kalinya musim ini Marseille kebobolan di masa injury time, sebuah statistik yang menurut Abardonado menunjukkan masalah mental yang akut.

"Tim ini mungkin tidak sakit, tetapi sangat menderita. Ini menjadi tema yang berulang. Skenarionya sama seperti saat melawan Paris FC, di mana kami sudah memimpin 2-0 lalu kebobolan penalti di tambahan waktu," ujar Abardonado dalam konferensi pers pasca-laga, seperti dilansir The Daily Tribunal.

Suara Kemarahan: "Sistem Ini Busuk"

Atmosfer pasca-laga berubah menjadi hostile. Laporan dari La Provence mengonfirmasi bahwa ketegangan memuncak hingga ke luar lapangan. Sekelompok suporter mencoba menyerbu presidential suite (ruang VVIP) tempat direksi klub berada, memaksa aparat keamanan menutup akses ke tribun Jean-Bouin.

Sasaran kemarahan bukan lagi sekadar pemain atau pelatih, melainkan struktur manajemen tertinggi. Kelompok South Winners, salah satu basis suporter terbesar OM, membentangkan pesan verbatim yang menargetkan Frank McCourt:

"Kalian telah memutus sekringnya, tapi seluruh sistemnya busuk. [McCourt], kapten dari kapal hantu yang tidak pernah menyeberangi samudra."

Sementara itu, spanduk lain di tribun utara secara eksplisit mengusir manajemen: "McCourt/Longoria, get out!"

Masa Depan yang Gelap

Hasil imbang ini menahan Marseille di peringkat keempat, terpaut 12 poin dari pemuncak klasemen Lens, dan secara efektif mengubur mimpi gelar juara Ligue 1 musim 2025/2026. Bagi Ethan Nwaneri, pemain pinjaman dari Arsenal, krisis ini menjadi pengalaman pahit pertamanya di Prancis; ia hanya duduk di bangku cadangan sepanjang 90 menit menyaksikan rekan-rekannya dicemooh oleh pendukung sendiri.

Dengan ancaman sanksi disipliner akibat penggunaan suar (flare) dan percobaan penyerbuan area VVIP, manajemen Longoria kini menghadapi tekanan eksistensial. Vélodrome telah berbicara: tanpa perubahan radikal, sisa musim ini hanya akan menjadi parade protes di tengah tribun yang kosong.

Sport#Roberto#De#Zerbi#Marseille#OM#Olympiqe de Marseille
Bagikan: