Manchester, Sabtu 14 Februari 2026 – Di tengah gemuruh pemulihan fisik dan kembalinya sang maestro ke lapangan hijau, Manchester City kini menghadapi pertarungan yang jauh lebih sunyi namun mematikan: pertempuran tanda tangan Rodri.
Sabtu ini menandai titik krusial. Bukan hanya karena sang pemenang Ballon d'Or 2024 telah kembali merumput sebanyak 14 kali di liga pasca-cedera ACL yang menghantuinya sepanjang 2025, tetapi karena "bom waktu" kontraknya kini berdetak lebih kencang. Dengan masa bakti yang akan habis pada Juni 2027, City hanya memiliki waktu kurang dari empat bulan sebelum memasuki zona merah—musim panas terakhir di mana mereka bisa menjualnya dengan harga premium, atau mengambil risiko kehilangan aset terbesarnya secara gratis tahun depan.
Kabut Ketidakpastian dari Sang Ayah
Narasi kepindahan ke Real Madrid, yang selama ini hanya dianggap sebagai "bising-bising media", mendapatkan bahan bakar baru yang eksplosif pekan ini. Dalam sebuah acara penghargaan di Madrid yang berlangsung Kamis, 12 Februari 2026, ayah sang pemain, Antonio Hernández, memberikan pernyataan yang alih-alih meredam spekulasi, justru menyiramnya dengan bensin.
Ketika didesak mengenai masa depan putranya, Hernández memilih kalimat diplomatis yang sarat makna ganda.
"I can't say anything. He's very comfortable where he is. It's possible he doesn't know it [where he will play] yet. He is negotiating. But I know nothing. History has yet to be written."
(Antonio Hernández, Madrid, 12 Februari 2026)
Pernyataan ini mengonfirmasi dua hal vital: negosiasi perpanjangan kontrak dengan City sedang berlangsung, namun kesepakatan masih jauh dari kata "selesai". Bagi pendukung The Citizens, frasa "sejarah belum tertulis" adalah sinyal bahaya yang nyata.
Hantu Bernabeu dan Faktor Carvajal
Real Madrid tidak pernah benar-benar pergi. Setelah kehilangan Toni Kroos (pensiun 2024) dan semakin menipisnya peran Luka Modric, Los Blancos melihat Rodri bukan sekadar sebagai tambahan skuad, melainkan kepingan puzzle terakhir untuk menyempurnakan era baru lini tengah mereka.
Tekanan psikologis juga datang dari rekan senegaranya, Dani Carvajal. Bek kanan Real Madrid tersebut tidak pernah menyembunyikan "misi rahasia"-nya untuk membawa pulang Rodri ke ibu kota Spanyol. Dalam wawancara yang kini kembali relevan, Carvajal pernah secara terbuka mengakui taktik persuasinya.
"I tell him every day to leave Manchester, there is no sun there, to come to Madrid, because we need him. He tells me he has a contract, but he would be perfect for us."
(Dani Carvajal, dikutip via Tiempo de Juego)
Di tahun 2026 ini, dengan Rodri yang kini berusia 29 tahun dan baru saja melewati trauma cedera panjang, argumen "pulang ke rumah" dengan cuaca yang lebih bersahabat dan liga yang lebih tidak menuntut secara fisik dibandingkan Premier League menjadi godaan yang semakin logis.
Realitas Pasca-Cedera
Konteks fisik Rodri tidak bisa diabaikan. Setelah absen hampir satu tahun penuh akibat robek ligamen lutut (ACL) pada September 2024, performanya di awal 2026 masih dalam tahap adaptasi. Meski telah mencatatkan 14 penampilan liga musim ini, laporan menyebutkan adanya masalah otot yang kambuhan—efek samping umum setelah absen panjang.
Bagi Manchester City, ini adalah dilema perjudian investasi: Memberikan kontrak "seumur hidup" dengan gaji masif kepada pemain berusia 29 tahun dengan riwayat cedera lutut baru, atau menguangkannya ke Madrid musim panas ini untuk membiayai regenerasi skuad?
Masa Depan: Piala Dunia Sebagai Panggung Akhir?
Fokus jangka pendek Rodri jelas: Piala Dunia 2026 yang tinggal beberapa bulan lagi. Ia ingin memimpin Spanyol sebagai kapten dan jenderal lapangan tengah. Namun, bagi manajemen City dan perwakilannya, pertempuran sesungguhnya terjadi di meja negosiasi sebelum turnamen dimulai.
Jika kalimat ayahnya adalah indikasi, Rodri masih mencintai Manchester. Namun dalam sepak bola modern, "nyaman" tidak selalu berarti "bertahan". Hingga tinta di atas kertas mengering, bayang-bayang Santiago Bernabeu akan terus menghantui Etihad Stadium.

