Dalam sebuah wawancara eksplosif yang dirilis pagi ini, Kamis (12/02/2026), mantan manajer Tottenham Hotspur, Ange Postecoglou, akhirnya memecah kebisuan pasca-pemecatannya musim panas lalu. Berbicara dalam podcast "The Overlap", pelatih yang mempersembahkan trofi Liga Europa 2025 ini melontarkan pernyataan yang mengguncang fondasi identitas klub London Utara tersebut: Tottenham, menurutnya, "bukan klub besar".
Wawancara ini muncul kurang dari 24 jam setelah Spurs memecat penerus Postecoglou, Thomas Frank, menyusul serangkaian hasil buruk yang menempatkan klub di peringkat 16 klasemen sementara Premier League.
Fasad Mewah, Mentalitas Kerdil
Selama masa jabatannya, Postecoglou sering kali melindungi klub dari narasi negatif. Namun, pagi ini, ia merobek tirai tersebut dengan kritik tajam terhadap struktur operasional klub yang dinilainya kontradiktif dengan ambisi yang diproklamasikan.
"Mereka telah membangun stadion yang luar biasa, fasilitas latihan yang luar biasa," ujar Postecoglou dalam podcast tersebut, Kamis (12/02/2026). "Namun, ketika Anda melihat pengeluarannya, khususnya pada struktur gaji, mereka bukan klub besar."
Postecoglou menekankan adanya diskoneksi antara citra yang ingin ditampilkan Spurs dengan realitas operasional di balik layar.
"Saya merasa Tottenham sebagai klub berkata: 'Kami adalah salah satu pemain besar (big boys).' Dan kenyataannya, menurut pengalaman saya, saya tidak berpikir demikian," tegas Postecoglou.
Ia membandingkan pendekatan Spurs dengan rival sekota mereka. "Ketika Arsenal membutuhkan pemain, mereka akan menghabiskan £100 juta untuk Declan Rice. Saya tidak melihat Tottenham melakukan itu. Ini bukan soal biaya transfer semata, tapi soal gaji untuk benar-benar menarik pemain top. Maksud saya, kapan terakhir kali Tottenham benar-benar merekrut seseorang yang membuat Anda berkata: 'Wow!'?"
Daftar Belanja yang Ditolak: Realitas Pasar Transfer
Untuk pertama kalinya, Postecoglou membuka secara rinci nama-nama pemain yang ia targetkan untuk mengubah nasib Spurs musim lalu, namun gagal didapatkan karena batasan struktur klub.
Sang pelatih mengungkapkan bahwa ia secara spesifik meminta manajemen untuk mendatangkan Marc Guehi, Antoine Semenyo, Pedro Neto, dan Bryan Mbeumo. Keempat pemain ini dianggapnya sebagai figur "siap pakai" untuk Premier League yang dibutuhkan untuk transisi dari posisi kelima menuju penantang gelar.
Alih-alih mendapatkan target utamanya, klub justru mendatangkan Dominic Solanke dan talenta muda seperti Archie Gray, Lucas Bergvall, dan Wilson Odobert.
"Saya melihat itu karena ketika kami mencoba merekrut pemain, kami tidak berada di pasar untuk pemain-pemain tersebut [target utama]," jelasnya. "Tiga remaja tidak akan membawa Anda ke sana [juara]."
Pengakuan Daniel Levy dan Kutukan "Spursy"
Mungkin bagian paling meresahkan bagi para pendukung adalah konfirmasi Postecoglou mengenai mentalitas "Spursy" yang merasuki klub, sebuah label kegagalan yang ternyata diakui secara internal, bahkan oleh para petinggi.
Postecoglou menceritakan momen surealis dengan mantan Chairman, Daniel Levy, tepat sebelum final Liga Europa di Bilbao tahun lalu, pertandingan yang akhirnya memutus puasa gelar 17 tahun klub tersebut.
"Saya bahkan ingat pada pagi hari final Liga Europa, Daniel [Levy] masuk dan kami minum kopi. Satu-satunya hal yang dia katakan kepada saya, yang aneh sebagai poin motivasi, adalah sesuatu seperti: 'Saya sudah berada di tujuh semifinal dan final dan kami belum memenangkan satu pun,'" ungkap Postecoglou.
Bagi Postecoglou, ucapan itu bukan sekadar keluhan, melainkan bukti ketakutan yang mengakar. "Tetapi saya tahu mengapa dia mengatakan itu. Karena mentalitas itu. Jadi Anda memilikinya dan itu benar-benar ada. Label 'Spursy' itu 100 persen nyata."
Masa Depan yang Suram
Komentar ini memberikan konteks baru yang brutal terhadap situasi Tottenham saat ini. Setelah memecat Postecoglou, meskipun ia memberikan trofi Eropa pertama dalam empat dekade, karena finis di posisi ke-17 musim lalu, Spurs kini kembali berada di papan bawah di bawah manajemen baru yang juga telah gagal.
Pernyataan Postecoglou hari ini bukan sekadar pembelaan diri seorang mantan manajer; ini adalah dakwaan terhadap budaya korporat yang tampaknya lebih memprioritaskan neraca keuangan dan citra stadion daripada substansi kemenangan di lapangan hijau.
Bagi para suporter yang menyaksikan klubnya terpuruk di posisi ke-16 pagi ini, kata-kata Postecoglou mungkin terdengar bukan sebagai penghinaan, melainkan diagnosis pahit yang selama ini mereka takutkan kebenarannya.


