Jakarta, Selasa, 17 Februari 2026 Langit Jakarta pagi ini tidak hanya diwarnai oleh residu kembang api yang meletus semalam, tetapi juga oleh atmosfer urgensi yang nyata. Hari ini, Selasa, 17 Februari 2026, menandai pergantian siklus zodiak Tiongkok yang signifikan: berakhirnya Tahun Ular yang meliuk tenang, digantikan oleh Tahun Kuda Api (Fire Horse) yang meledak-ledak. Dalam metafisika Tiongkok, kombinasi elemen api dengan shio kuda, yang secara alami juga berunsur api, menciptakan fenomena "api ganda" yang langka, sebuah siklus yang terakhir kali terjadi pada 1966.
Dampaknya tidak hanya terasa di klenteng-klenteng yang dipadati umat sejak subuh tadi, tetapi juga menjalar ke urat nadi perekonomian nasional. Momentum perayaan Imlek 2577 Kongzili kali ini diproyeksikan menjadi katalis konsumsi masif, terutama karena posisinya yang unik: berhimpitan langsung dengan persiapan bulan Ramadan yang akan tiba Maret mendatang.
Konteks: Ledakan Konsumsi di Awal Tahun
Data di lapangan menunjukkan pergerakan ekonomi yang agresif. Berdasarkan pantauan real-time dan proyeksi dari Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, libur nasional hari ini memicu perputaran uang yang fantastis. Mobilitas warga yang memanfaatkan "hari kejepit" cuti bersama Senin kemarin (16/2) telah menggerakkan sektor ritel, pariwisata, dan transportasi secara serentak.
Pemerintah sendiri, melalui SKB 3 Menteri, telah menetapkan hari ini sebagai titik puncak libur panjang awal tahun, sebuah strategi yang tampaknya berhasil memancing belanja masyarakat kelas menengah yang sempat tertahan.
Suara: Peringatan dan Optimisme
Di balik kemeriahan lampion merah, para pakar menyuarakan dua narasi berbeda: optimisme fiskal dan kewaspadaan mental.
Sarman Simanjorang, Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Otonomi Daerah, menyoroti skala ekonomi dari perayaan ini. Dalam keterangannya yang dirilis seiring puncak perayaan, ia menegaskan bahwa dampak finansial Imlek tahun ini melampaui sekadar belanja ornamen.
"Potensi perputaran uang selama perayaan dan libur Imlek 2026 diperkirakan Rp9,1 triliun," ungkap Sarman. Angka ini, menurutnya, didorong oleh mobilitas 11,25 juta warga Tionghoa dan efek ganda pariwisata domestik.
Optimisme serupa datang dari sektor makroekonomi. Mohammad Faisal, Ekonom Senior Core Indonesia, melihat korelasi langsung antara belanja pemerintah awal tahun dan momentum budaya ini terhadap target pertumbuhan ekonomi Kuartal I-2026.
"Karena 2 faktor sumber pertumbuhan ekonomi itu digenjot, maka bisa jadi ke 5,5%," jelas Faisal saat dihubungi pagi ini, merujuk pada kombinasi stimulus fiskal dan konsumsi hari raya.
Namun, di sisi lain, peringatan keras datang dari para ahli metafisika mengenai karakter tahun ini. Pakar Feng Shui, Yulius Fang, mengingatkan bahwa energi "Kuda Api" membawa pedang bermata dua: semangat yang tinggi namun rentan terhadap konflik dan keputusan impulsif.
"Akan banyak euphoria, kegembiraan, sesuatu yang cerah, terang, megah tapi diiringi emosi tidak stabil, temperamental, dan rasa tidak sabaran," ujar Yulius dalam analisisnya mengenai energi tahun 2026.
Masa Depan: Menjinakkan Api
Tahun 2026 diprediksi akan menjadi tahun yang "cepat" dan tanpa kompromi. Bagi Indonesia, tantangannya adalah mengelola energi "api" ini agar menjadi bahan bakar produktivitas, bukan pemicu konflik sosial atau burnout kolektif.
Dengan Idul Fitri yang jatuh pada akhir Maret nanti (sekitar 21-22 Maret 2026), Indonesia menghadapi kuartal pertama yang sangat padat. Jika prediksi ekonomi akurat, negara ini sedang berada di jalur pertumbuhan 5,5% yang solid. Namun, seperti yang tersirat dari nasihat Yulius Fang, kunci keberhasilan di Tahun Kuda Api bukanlah seberapa cepat kita berlari, melainkan seberapa baik kita mengendalikan arah di tengah kecepatan yang memabukkan tersebut.



