Washington D.C., Jumat, 20 Februari 2026. Ketidakpastian ekonomi yang membayangi hubungan Indonesia-Amerika Serikat selama enam bulan terakhir akhirnya mereda hari ini. Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Donald Trump resmi menandatangani kesepakatan dagang baru di Gedung Putih, sebuah langkah yang oleh kedua pemimpin disebut sebagai gerbang menuju "era emas" aliansi bilateral.
Langkah ini menjadi kulminasi dari strategi diplomasi personal yang dibangun Prabowo sejak kemenangan elektoral Trump pada November 2024 silam, sebuah strategi yang memadukan pendekatan "Good Neighbor" dengan pragmatisme ekonomi.
Kesepakatan 19 Persen: Menghindari Tarif Masif
Inti dari pertemuan hari ini adalah penandatanganan framework perdagangan yang secara efektif membatalkan ancaman tarif 32% terhadap produk ekspor unggulan Indonesia. Sebagai gantinya, Washington sepakat memberlakukan tarif rata-rata 19% untuk mayoritas barang, dengan pengecualian khusus (pembebasan tarif) bagi tekstil dan produk farmasi tertentu.
David Sumual, Kepala Ekonom BCA, memberikan pandangan realistis mengenai kesepakatan yang diteken pagi ini waktu setempat.
"Dengan konfigurasi geopolitik saat ini dan kondisi kerja sama perdagangan, khususnya dengan AS, hasilnya tidak akan pernah bisa 100% menang (win). Selalu ada trade-off."
David Sumual, Jakarta, Jumat 20 Februari 2026 (via The Edge Singapore).
Kesepakatan ini dinilai krusial bagi Prabowo di tengah peringatan MSCI mengenai daya tarik pasar saham Indonesia dan outlook kredit dari Moody's yang sempat menurun akhir tahun lalu.
Kilas Balik: Fondasi "My Friend" (November 2024)
Untuk memahami kedekatan yang terjalin di Washington hari ini, kita harus melihat kembali momen pivotal pada 11 November 2024. Saat itu, Prabowo (yang baru sebulan dilantik) langsung menghubungi Donald Trump pasca-kemenangan pemilu AS. Transkrip percakapan telepon tersebut, yang sempat viral di media sosial, menjadi cetak biru hubungan kedua pemimpin: personal, lugas, dan saling memuji.
Dalam arsip digital yang diverifikasi, Prabowo menunjukkan inisiatif diplomatik yang agresif namun santun:
"Wherever you are, I'm willing to fly to congratulate you personally, sir." (Di mana pun Anda berada, saya bersedia terbang untuk mengucapkan selamat secara langsung, Pak.)
Prabowo Subianto, Percakapan Telepon, 11 November 2024.
Respons Donald Trump saat itu memberikan sinyalemen kuat bahwa Indonesia berada dalam "radar positif" administrasinya, berbeda dengan pendekatan transaksional kakunya terhadap negara lain:
"Great job you're doing in Indonesia. Great, great job, proud of you... You are a very respected person." (Pekerjaan luar biasa yang Anda lakukan di Indonesia. Sangat, sangat hebat, saya bangga pada Anda... Anda adalah orang yang sangat dihormati.)
Donald Trump, Percakapan Telepon, 11 November 2024.
Chemistry yang terbangun dari percakapan 15 bulan lalu inilah yang diyakini para analis memuluskan negosiasi alot terkait tarif dagang dan keikutsertaan Indonesia dalam inisiatif baru Trump, Board of Peace.
Masa Depan: Poros Perdamaian Baru?
Selain isu dagang, pertemuan hari ini juga mengonfirmasi partisipasi Indonesia dalam Board of Peace, sebuah badan inisiatif Trump untuk stabilisasi Gaza dan konflik global. Langkah ini menempatkan Indonesia dalam posisi unik: mempertahankan kebijakan luar negeri bebas-aktif sambil masuk ke lingkaran terdalam pengaruh Washington.
Pernyataan bersama (Joint Statement) yang dirilis Gedung Putih siang ini menegaskan ambisi tersebut:
"[We are taking] further steps for a new golden age of the ever-growing US-Indonesian Alliance." ([Kami mengambil] langkah lebih lanjut menuju era emas baru bagi Aliansi AS-Indonesia yang terus berkembang.)
Pernyataan Resmi Gedung Putih, Washington D.C., 20 Februari 2026.
Bagi Prabowo, kunjungan ketiga ke Washington sejak menjabat ini bukan sekadar seremonial. Ini adalah pembuktian bahwa strategi "menemui teman" yang ia tawarkan pada 2024 telah membuahkan dividen ekonomi dan geopolitik nyata di tahun 2026.



