JAKARTA, 20 Februari 2026 – Kawasan permukiman padat penduduk di Kebon Pala, Kampung Melayu, Jakarta Timur, kembali lumpuh total pada Jumat siang ini. Luapan Kali Ciliwung yang dipicu oleh curah hujan tinggi serta kiriman air dari Bogor menyebabkan ketinggian air melonjak drastis hingga mencapai 1,2 meter (120 cm).
Bencana tahunan ini terasa lebih berat bagi warga karena terjadi tepat di bulan suci Ramadan, mengganggu ibadah dan aktivitas sahur masyarakat yang kini terisolasi di lantai dua rumah mereka.
Eskalasi Cepat: Dari Sahur Hingga Siang Hari
Berdasarkan pantauan lapangan dan data yang dihimpun dari lokasi, debit air mulai merangkak naik secara signifikan pada dini hari, saat warga sedang bersiap untuk makan sahur. Air kiriman tersebut dengan cepat merendam wilayah RW 04 (mencakup RT 11, RT 12, RT 13) dan RW 05 (RT 05, RT 06, RT 09).
Ketinggian air yang semula hanya semata kaki pada pukul 02.00 WIB, terus meningkat tanpa henti hingga mencapai puncaknya pada siang hari ini.
Sanusi, Ketua RT 13/RW 04 Kampung Melayu, memberikan konfirmasi langsung mengenai kenaikan debit air yang mengkhawatirkan tersebut. Dalam keterangannya pada Jumat siang, ia merinci kronologi kenaikan air yang terjadi dalam hitungan jam.
"Pagi ini, lalu pukul 13.00 WIB, sekarang air sudah mencapai 120 sentimeter, udah satu meter lebih," ungkap Sanusi kepada awak media di lokasi kejadian (20/2/2026).
Bertahan di Lantai Dua
Meski akses jalan lingkungan telah terputus total dan ketinggian air membahayakan, mayoritas warga memilih untuk tidak mengungsi ke posko pengungsian. Struktur bangunan di kawasan Kebon Pala yang rata-rata bertingkat menjadi alasan utama warga untuk tetap bertahan menjaga harta benda mereka.
Sanusi menjelaskan bahwa warga memanfaatkan lantai atas rumah mereka sebagai tempat perlindungan sementara sembari menunggu air surut.
"Rata-rata di lantai dua semua. Jadi, barang-barang dan untuk singgah, masih ada lantai dua," jelas Sanusi.
Namun, keputusan untuk bertahan ini bukan tanpa risiko. Aktivitas warga menjadi sangat terbatas, terutama dalam memenuhi kebutuhan logistik di bulan puasa. Beberapa warga terpaksa menggunakan perahu kecil untuk menembus banjir demi membeli makanan untuk sahur tadi pagi.
Krisis Bantuan Logistik
Salah satu temuan paling kritis dalam peristiwa hari ini adalah absennya bantuan logistik dari pemerintah setempat hingga Jumat siang. Padahal, ratusan Kepala Keluarga (KK)—termasuk 96 KK di RT 13 dan 70 KK di wilayah sekitarnya—telah terdampak langsung dan akses mereka untuk mencari nafkah atau membeli makanan terputus.
Ketika dikonfirmasi mengenai distribusi bantuan, Sanusi memberikan pernyataan yang menyoroti lambatnya respons pemerintah dalam menyalurkan bantuan pangan.
"Belum. Sampai saat ini belum ada, sih, bantuan," tegasnya.
Intervensi Kepolisian: Evakuasi Kelompok Rentan
Di tengah absennya bantuan logistik, upaya penyelamatan darurat justru datang dari aparat kepolisian. Direktorat Kepolisian Perairan dan Udara (Ditpolairud) Polda Metro Jaya telah menerjunkan tim SAR sejak pagi hari untuk menyisir lokasi. Fokus utama mereka adalah mengevakuasi kelompok rentan seperti balita, lansia, dan warga yang sakit, serta mengamankan kendaraan bermotor agar tidak rusak terendam air.
Dirpolairud Polda Metro Jaya, Kombes Pol Mustofa, mengonfirmasi bahwa personelnya telah bergerak aktif di lapangan menggunakan perahu karet untuk merespons situasi darurat ini.
"Sejak pagi, Tim SAR Ditpolairud turun ke lokasi dan melakukan aksi cepat membantu warga terdampak," ujar Kombes Pol Mustofa dalam keterangan resminya, Jumat (20/2/2026).
Proyeksi Situasi
Hingga berita ini diturunkan pukul 15.00 WIB, langit di atas Jakarta Timur masih terpantau mendung, menimbulkan kekhawatiran akan adanya hujan susulan yang dapat memperparah ketinggian air. Warga Kebon Pala kini hanya bisa berharap air segera surut dan bantuan logistik segera tiba untuk menunjang kebutuhan berbuka puasa nanti.



