LUMAJANG, Selasa, 17 Februari 2026 – Di saat sebagian masyarakat merayakan Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili, Gunung Semeru justru mengirimkan sinyal bahaya yang tidak bisa diabaikan. Puncak tertinggi di Pulau Jawa ini kembali bergejolak dengan intensitas tinggi, mencatatkan belasan gempa letusan hanya dalam kurun waktu enam jam pada pagi hari ini, Selasa, 17 Februari 2026.
Data terbaru yang dihimpun dari Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Semeru di Gunung Sawur menegaskan bahwa status "Siaga" (Level III) bukan sekadar formalitas administratif, melainkan representasi nyata dari ancaman yang mengintai ribuan warga di sektor tenggara.
Dominasi Gempa Erupsi di Pagi Imlek
Berdasarkan laporan periodik yang dirilis Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) untuk periode pengamatan pukul 06.00 hingga 12.00 WIB hari ini, aktivitas seismik didominasi oleh gempa letusan. Fluktuasi energi ini mengindikasikan bahwa dapur magma Semeru masih sangat aktif memompa material ke permukaan.
Sigit Rian Alfian, petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, merinci data teknis yang terekam pada seismograf pagi ini. Kutipan berikut diambil dari laporan resmi PGA Semeru yang dirilis pada Selasa, 17 Februari 2026, pukul 12.30 WIB:
"Gempa erupsi mendominasi pada pagi ini dengan intensitas 17 kali dengan amplitudo 12-22 mm dan lama gempa 75-135 detik."
Selain gempa letusan, instrumen pemantauan juga merekam tiga kali gempa hembusan dan satu kali gempa harmonik yang berlangsung cukup lama, yakni 237 detik. Hal ini menandakan adanya pergerakan fluida magmatik yang stabil di bawah kawah Jonggring Saloko.
Eskalasi Sejak Akhir Pekan
Peningkatan aktivitas hari ini bukanlah kejadian tunggal, melainkan kelanjutan dari tren eskalasi yang terjadi sejak akhir pekan lalu. Tiga hari sebelumnya, tepatnya pada Sabtu, 14 Februari 2026, Semeru sempat memuntahkan Awan Panas Guguran (APG) dengan jarak luncur yang mengkhawatirkan.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Geologi, Lana Saria, dalam keterangan tertulisnya yang dipublikasikan Minggu, 15 Februari 2026, menyoroti bahaya dari akumulasi material vulkanik yang tidak stabil di bibir kawah. Berikut pernyataan resmi beliau terkait evaluasi aktivitas mingguan:
"Berdasarkan hasil pemantauan visual dan instrumental pada Sabtu (14/2) teramati dua kali kejadian APG [Awan Panas Guguran] dengan jarak luncur mencapai 6.000 meter dari puncak ke arah tenggara."
Lana juga menambahkan analisis mengenai suplai magma yang belum menunjukkan tanda-tanda berhenti:
"Gempa yang terekam mengindikasikan bahwa masih adanya suplai dari bawah permukaan Gunung Semeru bersamaan dengan pelepasan material ke permukaan melalui letusan dan embusan."
Zona Merah yang Tak Boleh Ditawar
Dengan data aktivitas hari ini yang menunjukkan 17 kali letusan dalam waktu singkat, potensi perluasan area terdampak tetap tinggi. PVMBG mempertahankan rekomendasi ketat, terutama bagi masyarakat yang bermukim atau beraktivitas di sekitar Daerah Aliran Sungai (DAS) yang berhulu di puncak Semeru.
Publik dilarang keras melakukan aktivitas apapun di sektor tenggara di sepanjang Besuk Kobokan sejauh 13 kilometer dari puncak. Di luar jarak tersebut, masyarakat juga diminta menjauhi tepian sungai (sempadan) hingga jarak 500 meter karena risiko perluasan awan panas dan lahar dingin yang dapat menjangkau hingga 17 kilometer.
Bagi warga Lumajang, Imlek tahun ini menjadi pengingat tegas: kewaspadaan terhadap "Pakualam" (sebutan lokal untuk Semeru) tidak boleh surut barang sedetik pun, meskipun di hari perayaan.



