MONOCHROME. - Awal tahun 2026 menyaksikan kontras yang mencolok dalam performa mata uang negara-negara ASEAN. Baht Thailand dan ringgit Malaysia mencatat penguatan signifikan, sementara rupiah Indonesia dan peso Filipina terus melemah terhadap dolar AS. Perbedaan fundamental dalam struktur ekonomi, kebijakan moneter, dan faktor eksternal menjadi penyebab utama perbedaan performa ini.
Faktor-Faktor di Balik Kekuatan Baht Thailand
Penguatan Ekspor dan Investasi Asing
Baht Thailand menguat sekitar 8,2% sepanjang tahun 2025 dan berlanjut kuat di awal 2026, menjadikannya mata uang terkuat kedua di Asia Tenggara. Penguatan ini didorong oleh ekspor yang kuat dan arus modal masuk yang meningkatkan kepercayaan investor.
Sektor Pariwisata yang Tangguh
Pariwisata internasional dan domestik Thailand tetap kuat dalam volume dan nilai, memberikan kontribusi signifikan terhadap penguatan baht. Sektor ini menjadi sumber pendapatan devisa yang stabil bagi perekonomian Thailand.
Harga Emas dan Pelemahan Dolar AS
Kenaikan harga emas global dan pelemahan dolar AS turut mendukung penguatan baht Thailand sepanjang tahun 2025. Faktor-faktor ini menciptakan kondisi yang menguntungkan bagi mata uang Thailand.
Kebijakan Bank Sentral yang Stabil
Bank of Thailand menjaga stabilitas kebijakan moneter yang mendukung kepercayaan pasar terhadap baht, meskipun menghadapi tantangan struktural dalam perekonomian.
Faktor-Faktor di Balik Kekuatan Ringgit Malaysia
Ekspor Teknologi dan Investasi Asing Langsung
Ringgit Malaysia menguat di awal 2026 setelah melonjak signifikan sepanjang tahun sebelumnya. Kekuatan ini didorong oleh ekspor teknologi yang solid, investasi asing langsung yang stabil, serta kebijakan Bank Negara Malaysia yang konsisten.
Faktor Struktural yang Mendalam
Penguatan ringgit tidak hanya disebabkan oleh pelemahan dolar AS, tetapi juga oleh faktor struktural yang mendasar dalam perekonomian Malaysia, mencerminkan fondasi ekonomi yang kuat dan berkelanjutan.
Permintaan Elektronik yang Kuat
Permintaan global terhadap produk elektronik terus mendukung ekspor dan pertumbuhan PDB Malaysia pada tahun 2026. Sektor ini menjadi tulang punggung perekonomian Malaysia.
Kepercayaan Ekonomi yang Meningkat
Ringgit yang lebih kuat meningkatkan kepercayaan ekonomi domestik, dengan harga barang impor seperti smartphone, kendaraan, obat-obatan, gandum, dan susu menjadi lebih terjangkau bagi konsumen.
Faktor-Faktor di Balik Kelemahan Rupiah Indonesia
Inflasi dan Tekanan Domestik
Rupiah Indonesia melemah mendekati level IDR 16.800 per dolar AS pada awal Februari 2026. Inflasi dan tekanan domestik menjadi faktor utama yang membebani kinerja mata uang nasional.
Defisit Perdagangan yang Berkelanjutan
Depresiasi rupiah yang dimulai pada akhir 2025 berlanjut hingga awal 2026. Defisit perdagangan yang persisten menjadi tantangan struktural bagi perekonomian Indonesia.
Tekanan Eksternal yang Tinggi
Meskipun prospek ekonomi dinilai konstruktif, rupiah tetap menghadapi volatilitas tinggi akibat risiko eksternal dan dinamika pasar global.
Faktor-Faktor di Balik Kelemahan Peso Filipina
Defisit Perdagangan yang Tinggi
Peso Filipina melemah terhadap dolar AS, mencerminkan defisit perdagangan yang tinggi dan lemahnya neraca eksternal negara tersebut.
Proyeksi Pelemahan Berkelanjutan
Sejumlah lembaga riset memperkirakan peso akan terus melemah hingga akhir 2026, seiring tekanan struktural yang belum mereda.
Tantangan Perdagangan
Peso diperkirakan tetap berada di bawah tekanan akibat angin sakal perdagangan dan ketergantungan pada impor.
Inflasi yang Meningkat
Kenaikan inflasi pada awal 2026 memberikan tekanan tambahan terhadap stabilitas mata uang Filipina, meskipun masih berada dalam kisaran target bank sentral.
Perbandingan Performa Mata Uang ASEAN
Data Januari 2026 menunjukkan bahwa ringgit Malaysia dan baht Thailand mencatat performa terbaik, sementara rupiah Indonesia dan peso Filipina berada di kelompok mata uang terlemah di kawasan ASEAN.
Analisis Perbedaan Fundamental
Diversifikasi Ekonomi
Thailand dan Malaysia memiliki struktur ekonomi yang lebih terdiversifikasi dengan basis ekspor manufaktur dan teknologi yang kuat. Sebaliknya, Indonesia dan Filipina masih lebih rentan terhadap fluktuasi eksternal.
Kebijakan Moneter yang Berbeda
Bank sentral Thailand dan Malaysia cenderung lebih konsisten dan responsif terhadap kondisi pasar, sementara Indonesia dan Filipina menghadapi dilema antara stabilitas harga dan pertumbuhan ekonomi.
Arus Modal dan Investasi
Arus modal ke Thailand dan Malaysia relatif lebih stabil, didukung iklim investasi yang kondusif dan infrastruktur yang memadai.
Prospek ke Depan
Baht Thailand diperkirakan menguat hingga pertengahan 2026 sebelum melemah pada paruh kedua tahun. Ringgit Malaysia diproyeksikan tetap kuat seiring pertumbuhan ekonomi yang solid. Rupiah Indonesia diharapkan stabil namun tetap volatil, sementara peso Filipina diperkirakan tetap lemah sepanjang 2026.
Kesimpulan
Perbedaan performa mata uang ASEAN di awal 2026 mencerminkan kekuatan dan kelemahan fundamental masing-masing negara. Baht Thailand dan ringgit Malaysia diuntungkan oleh ekspor yang kuat, investasi asing, dan kebijakan moneter yang stabil, sementara rupiah Indonesia dan peso Filipina masih terbebani oleh defisit perdagangan, inflasi, dan tekanan eksternal.
Ke depan, Indonesia dan Filipina perlu memperkuat diversifikasi ekonomi dan daya saing ekspor, sementara Thailand dan Malaysia perlu menjaga keseimbangan agar mata uang yang terlalu kuat tidak menggerus daya saing global.



