JAKARTA – Pasar saham Indonesia mencatatkan anomali signifikan pada penutupan perdagangan Kamis, 19 Februari 2026. Di tengah menghijaunya mayoritas bursa Asia, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru terkoreksi sendirian ke zona merah, merespons keputusan Bank Indonesia yang menahan suku bunga acuan. Ironisnya, pelemahan ini terjadi saat investor asing justru mencatatkan aksi beli bersih (net buy) senilai ratusan miliar rupiah, sebuah divergensi yang menandakan kehati-hatian investor domestik terhadap ketidakpastian moneter global yang masih membayangi.
Anomali di Tengah Pesta Asia
Data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis, 19 Februari 2026, menunjukkan IHSG ditutup melemah 0,43% ke level 8.274,08. Angka ini memangkas optimisme yang sempat terbangun sehari sebelumnya, Rabu, 18 Februari 2026, saat indeks melesat 1,19% ke posisi 8.310,23 pasca-libur Imlek.
Volume perdagangan tercatat cukup padat dengan 53,3 miliar saham berpindah tangan dan nilai transaksi harian mencapai Rp26,24 triliun. Frekuensi perdagangan menyentuh angka 3,33 juta kali. Tekanan jual didominasi oleh sektor teknologi yang anjlok 1,16%, disusul sektor keuangan (-1,03%) dan properti (-0,70%). Sebaliknya, sektor barang baku justru menjadi penopang dengan kenaikan 2,85%, diikuti sektor transportasi (+1,92%).
Di papan saham, volatilitas ekstrem terlihat jelas. Saham PT Sunson Textile Manufacturer Tbk (SSTM) memimpin daftar top losers dengan kejatuhan 14,96%, diikuti PT Rockfields Properti Indonesia Tbk (ROCK) yang tergerus 14,85%. Di sisi lain, saham PT Kokoh Inti Arebama Tbk (KOCI) terbang 35% sebagai top gainer.
Meskipun indeks merah, investor asing mencatatkan pembelian bersih sebesar Rp387,02 miliar. Hal ini kontras dengan posisi IHSG sebagai satu-satunya indeks yang melemah di kawasan Asia, tertinggal jauh dari Nikkei Jepang yang naik 0,57%, Hang Seng Hong Kong (+0,52%), dan Straits Times Singapura yang melesat 1,28%.
Fokus Stabilitas Rupiah
Koreksi pasar ini berkaitan erat dengan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia periode Februari 2026 yang memutuskan untuk mempertahankan BI Rate di level 4,75%. Langkah ini diambil sebagai strategi defensif otoritas moneter dalam menghadapi dinamika pasar global yang masih fluktuatif.
Dalam konferensi pers yang digelar pada Kamis siang, 19 Februari 2026, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menegaskan bahwa prioritas bank sentral saat ini adalah menjaga "benteng" nilai tukar.
"Keputusan ini konsisten dengan fokus kebijakan saat ini pada upaya penguatan stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah tetap tingginya ketidakpastian pasar keuangan global," ujar Perry Warjiyo di Jakarta, Kamis (19/2/2026).
Keputusan ini dinilai analis sebagai langkah pragmatis, mengingat belum adanya perubahan fundamental yang drastis dari sisi eksternal, terutama terkait kebijakan The Fed. Maximilianus Nico Demus, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, memberikan pandangannya mengenai respons pasar yang cenderung wait and see.
“Sebab, pelaku pasar dan investor melihat belum banyak situasi dan kondisi yang berubah hingga hari ini, meskipun sudah mulai stabil,” ungkap Nico Demus saat dihubungi pada Kamis (19/2/2026).
Proyeksi Kuartal Pertama
Meskipun mengalami koreksi jangka pendek, prospek IHSG hingga akhir kuartal I-2026 dinilai masih cukup solid. Analis memperkirakan indeks akan bergerak stabil di atas level psikologis 8.200, dengan target optimis menyentuh rentang 8.450 hingga 8.500 pada penghujung Maret nanti. Sektor barang baku dan transportasi diprediksi masih akan menjadi motor penggerak utama, seiring dengan pulihnya aktivitas ekonomi domestik pasca-perayaan tahun baru Imlek.



