MONOCHROME.
News

Dua Guncangan Dangkal Hantam Sulawesi dan Maluku dalam 7 Jam

S
Syadzili
February 19, 20263 min read
Dua Guncangan Dangkal Hantam Sulawesi dan Maluku dalam 7 Jam
Jakarta, Kamis 19 Februari 2026Indonesia kembali diingatkan akan posisinya di atas "Cincin Api" Pasifik. Belum kering keringat warga usai aktivitas pagi hari, d...

Jakarta, Kamis 19 Februari 2026

Indonesia kembali diingatkan akan posisinya di atas "Cincin Api" Pasifik. Belum kering keringat warga usai aktivitas pagi hari, dua gempa bumi signifikan mengguncang wilayah timur Indonesia dalam rentang waktu kurang dari tujuh jam pada Kamis ini. Fenomena geologis yang terjadi di Laut Sulawesi dan Kepulauan Aru ini, meski tidak memicu gelombang tsunami, menjadi sinyal tegas bagi kesiapsiagaan mitigasi bencana nasional.

Data dan Fakta: Duel Tektonik di Utara dan Timur

Guncangan pertama membuka hari bagi warga Buol, Sulawesi Tengah. Berdasarkan data pemutakhiran Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa berkekuatan Magnitudo 5,7 (dimutakhirkan menjadi M5,6) terjadi tepat pukul 07:26:15 WIB. Episenter teridentifikasi di Laut Sulawesi, berjarak sekitar 109 kilometer arah barat laut Gorontalo Utara dengan kedalaman dangkal 31 kilometer.

Getaran ini tidak hanya menghentak Buol, namun merambat hingga Gorontalo dengan intensitas IV MMI—cukup kuat untuk membuat gerabah pecah dan jendela berderik. Warga di Manado pun turut merasakan ayunan lemah pada skala II MMI.

Siang harinya, giliran lempeng di wilayah Maluku yang bergejolak. Pada pukul 14:02:20 WIB, gempa berkekuatan Magnitudo 5,1 mengguncang 52 kilometer barat laut Kepulauan Aru. Dengan kedalaman 67 kilometer, gempa ini dirasakan nyata di dalam rumah oleh warga setempat, seakan ada truk besar yang melintas.

Suara Otoritas: Analisis Tanpa Tsunami

Di tengah kepanikan sesaat yang sempat terjadi, BMKG bergerak cepat meredam spekulasi liar. Plt. Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Dr. Rahmat Triyono, S.T., Dipl.Seis., M.Sc., memberikan konfirmasi krusial mengenai karakteristik kedua gempa tersebut.

Terkait gempa pagi di Buol, Rahmat menegaskan bahwa mekanisme pergerakan batuan adalah oblique thrust atau mendatar naik, namun tidak cukup kuat untuk mengganggu kolom air laut.

"Hasil pemodelan menunjukkan bahwa gempabumi ini tidak berpotensi tsunami," ujar Rahmat dalam keterangan resminya, Kamis (19/2/2026).

Ia juga menambahkan temuan awal pasca-gempa pagi tersebut yang sedikit melegakan warga pesisir:

"Hingga pukul 07.50 WIB, hasil monitoring BMKG belum menunjukkan adanya aktivitas gempabumi susulan (aftershock)."

Pernyataan senada juga disampaikannya merespons gempa siang hari di Maluku. Melalui kanal informasi resmi, BMKG kembali menekankan tidak adanya ancaman bahaya ikutan berupa gelombang pasang, meski episenter berada di laut.

Perspektif Masa Depan: Kewaspadaan Tanpa Paranoia

Rentetan aktivitas seismik hari ini—ditambah catatan gempa M5,8 di Pacitan awal Februari lalu—menunjukkan tren aktivitas tektonik yang dinamis di awal tahun 2026. Meskipun teknologi pemodelan BMKG telah mampu memberikan kepastian potensi tsunami dalam hitungan menit, respons masyarakat di 20 menit pertama (20-20-20 rule) tetap menjadi kunci keselamatan.

Masyarakat diimbau untuk tidak lengah. Struktur bangunan tahan gempa dan rencana evakuasi mandiri harus menjadi prioritas, bukan sekadar wacana. Ke depan, akurasi informasi adalah perisai utama. Pastikan rujukan informasi Anda hanya berasal dari kanal terverifikasi seperti aplikasi InfoBMKG, guna menghindari jebakan hoaks yang kerap muncul pasca-bencana.

Bagikan: