LECCE, ITALIA – Selasa, 10 Februari 2026. Pemandangan di Jalan Raya Negara (S.S.) 613 kemarin pagi lebih menyerupai zona perang daripada jalur komuter yang menghubungkan Lecce dan Brindisi. Asap hitam membumbung dari bangkai kendaraan yang sengaja dibakar, suara ledakan mengguncang aspal, dan rentetan tembakan Kalashnikov memecah keheningan pagi.
Dalam sebuah serangan yang digambarkan saksi mata sebagai aksi paramiliter yang terkoordinasi, sebuah kelompok bersenjata menyerang konvoi transportasi uang tunai lapis baja. Namun, di balik keberanian sembrono para penyerang, operasi ini berakhir dengan kegagalan total bagi para kriminal dan sebuah "keajaiban" bagi aparat keamanan: tidak ada nyawa yang melayang, uang tetap aman, dan tiga tersangka kini berada dalam tahanan.
sumber : @FRANCE 24 English
Serangan terjadi tepat sebelum pukul 08:00 pagi waktu setempat, Senin (9/2/2026), di dekat persimpangan Tuturano. Sebuah "commando" yang diperkirakan terdiri dari 8 hingga 10 orang mengenakan pakaian serba hitam, rompi taktis, dan balaclava memblokir kedua arah jalan raya.
Mereka menggunakan metode klasik namun mematikan: membakar kendaraan berat dan mobil curian untuk menciptakan "tembok api", memaksa van lapis baja milik BTV (Battistolli Group) untuk berhenti. Para penyerang kemudian meledakkan pintu belakang van menggunakan bahan peledak tingkat militer.
Namun, teknologi mengalahkan teror. Ledakan tersebut memicu sistem keamanan internal van, yang seketika membanjiri ruang kargo dengan busa poliuretan (spuma block), membuat tumpukan uang tunai di dalamnya mustahil diakses. Frustrasi, para penyerang terlibat baku tembak sengit dengan patroli Carabinieri yang merespons dengan cepat.
Suara dari Lapangan (The Voice)
Kekacauan itu meninggalkan jejak trauma yang mendalam, namun juga rasa syukur yang tak terukur dari pihak berwenang.
Nicola Magno, Sekretaris Jenderal Regional serikat polisi UNARMA, memberikan pernyataan resmi pada Senin sore (9/2/2026), menyoroti betapa dekatnya insiden ini dengan tragedi.
"Melihat mobil rekan-rekan kami yang penuh dengan lubang bekas tembakan, kita bisa mengatakan bahwa mereka masih hidup karena mukjizat. Ini adalah eskalasi bahaya yang sangat mengkhawatirkan." — Nicola Magno (9/2/2026, 14:30 CET).
Di tingkat tertinggi, Jenderal Salvatore Luongo, Komandan Jenderal Carabinieri, langsung menghubungi komando provinsi Lecce dan Brindisi. Dalam rilis resminya kemarin malam, ia memuji keberanian personel di lapangan.
"Para prajurit Korps telah menunjukkan, sekali lagi, keberanian dan profesionalisme yang luar biasa, melakukan intervensi dengan tepat waktu dan tekad dalam konteks bahaya yang ekstrem." — Jenderal Salvatore Luongo (9/2/2026, 19:15 CET).
Seorang saksi mata sipil, wanita berusia 47 tahun yang mobilnya dibajak oleh para pelaku untuk melarikan diri, menceritakan momen mengerikan saat laras senapan diarahkan ke wajahnya.
"Saya hanya memikirkan putri saya saat itu. Tidak ada hal lain yang terlintas di kepala saya selain dia." — Saksi Mata Anonim (Dikutip dari Pisa Channel, 9/2/2026).
Tiga Tersangka Ditangkap, Perburuan Berlanjut
Meskipun para penyerang sempat melarikan diri dengan menaburkan paku di jalan raya untuk menghambat pengejaran, respons cepat aparat membuahkan hasil signifikan.
Tiga orang tersangka berhasil ditangkap dalam operasi penyisiran besar-besaran yang melibatkan helikopter dan anjing pelacak di pedesaan sekitar Squinzano dan Campi Salentina. Penyelidikan awal mengindikasikan bahwa para pelaku berasal dari Foggia, wilayah di utara Puglia yang terkenal dengan sindikat kejahatan terorganisir yang spesialis dalam perampokan mobil lapis baja.
Hari ini, S.S. 613 telah dibuka kembali, namun kehadiran polisi tetap diperketat di seluruh wilayah Salento. Pihak berwenang kini fokus memburu sisa anggota komando yang masih buron, dengan bukti forensik dari kendaraan yang ditinggalkan diharapkan menjadi kunci untuk membongkar seluruh jaringan ini.



