MONOCHROME. - Skandal Jeffrey Epstein, yang selama ini dianggap sebagai isu domestik Amerika Serikat, kini resmi menjadi persoalan serius di Eropa. Menyusul perilisan dokumen kunci oleh Departemen Kehakiman AS pada akhir Januari lalu, kerahasiaan yang selama ini melindungi sejumlah figur publik di Eropa mulai runtuh. Gelombang pengungkapan ini memicu reaksi berantai dari Paris hingga London, memaksa para elite menghadapi konsekuensi dari hubungan masa lalu mereka.
Berakhirnya Imunitas di Eropa
Selama bertahun-tahun, berkembang narasi bahwa kasus Epstein tidak akan menyentuh Eropa. Namun, data terbaru yang terungkap pekan lalu mematahkan anggapan tersebut. Dokumen-dokumen ini tidak hanya menyebut nama, tetapi juga merinci logistik, transaksi finansial, dan komunikasi yang melibatkan tokoh politik dan kerajaan di Benua Biru.
Dampak paling nyata terlihat di Prancis. Kejaksaan Keuangan Nasional Prancis (PNF) bergerak cepat dengan membuka penyelidikan pendahuluan terhadap mantan Menteri Kebudayaan, Jack Lang. Langkah hukum ini diambil setelah ditemukannya korespondensi intensif antara Lang dan Epstein yang berlanjut hingga tahun 2019 periode di mana Epstein sudah berstatus residivis kejahatan seksual.
Baca Juga : Pengungkapan sindikat judi online di Bali yang melibatkan puluhan WNA asal India
Tekanan Hukum dan Politik Meningkat
Situasi di Paris kian serius sejak akhir pekan lalu. Pada Minggu (8/2/2026), Jack Lang dipanggil menghadap Kementerian Luar Negeri terkait posisinya di Institut Dunia Arab. Fokus investigasi saat ini adalah dugaan pencucian uang dan penipuan pajak yang diperparah. Ini merupakan strategi hukum yang kerap digunakan jaksa untuk menjerat kolaborator Epstein ketika bukti langsung terkait kekerasan seksual sulit diproses karena kedaluwarsa atau minimnya saksi.
Merespons hal ini, pihak Lang mengeluarkan pernyataan tertulis. Mantan menteri tersebut menegaskan bahwa ia menyambut penyelidikan ini dengan tenang sebagai kesempatan untuk membersihkan namanya. Ia menepis segala spekulasi yang beredar dan menyatakan tuduhan tersebut tidak berdasar.
Sementara itu di Inggris, Istana Buckingham menghadapi krisis tersendiri. Andrew Mountbatten Windsor, yang telah kehilangan gelar kerajaannya, dilaporkan sedang dalam proses akhir pengosongan kediaman Royal Lodge. Keputusan Raja Charles III untuk memutus akses fasilitas kerajaan terhadap saudaranya dipercepat setelah laporan intelijen terbaru memperlihatkan bukti interaksi Andrew dengan seorang wanita muda tak dikenal.
Sumber internal kerajaan menyebutkan bahwa Andrew kini tidak memiliki pilihan selain pindah ke properti yang jauh lebih sederhana atau beralih ke sektor swasta. Meski pihak Andrew membingkai kepindahan ini sebagai keinginan pribadi untuk “memulai lembaran baru”, publik Inggris secara luas menilainya sebagai pengasingan halus namun tegas dari institusi monarki.
Klarifikasi Belgia dan Babak Baru Transparansi
Skandal ini juga menyentuh Belgia setelah nama Pangeran Laurent ditemukan dalam buku kontak Epstein. Pihak kerajaan segera memberikan klarifikasi bahwa kontak tersebut murni berkaitan dengan permintaan Epstein untuk dihubungkan dengan institusi pendidikan Eropa guna donasi permintaan yang menurut Pangeran Laurent, telah ia tolak.
Ke depan, Eropa memasuki era baru transparansi hukum. Mengingat Jean Luc Brunel (penghubung utama Epstein di Prancis) telah meninggal di penjara pada 2022, fokus penegak hukum kini beralih kepada para fasilitator yang masih hidup. Penyelidikan di Prancis diprediksi akan menjadi preseden bagi negara Eropa lainnya untuk membuka kembali berkas lama, memastikan bahwa jarak samudra tidak lagi menjadi pelindung bagi mereka yang terlibat dalam jaringan eksploitasi global ini.



